Siluman #2 [kami malu menjadi manusia]

Ketika pertama saya memperkenalkan diri sebagai siluman, beberapa pertanyaan dialamtkan kepadaku, dari yg bertanya sudah bosan jadi manusia? sampai dengan pertanyaan kenapa harus siluman?

Kenapa kami lebih bangga jadi siluman? seperti yg dijelaskan di sini siluman memang kadang bertingkah laku seperti manusia, beraktivitas seperti manusia bahkan berkomunikasi seperti manusia. Kelebihan dari siluman adalah siluman identik dengan sesuatu yg tidak bermoral, jahat, buruk tingkah laku.  Dari kelebihan itu kami beranggapan bahwa kami belum pantas menjadi manusia yg katanya derajat nya lebih tinggi dari makhluk lain, berakhlak lebih baik dari makhluk apapun di dunia, mempunyai otak untuk membedakan mana yg baik dan mana yg benar, bemartabat dan bermoral. Kami masih malu dan belum sanggup menyangga, memikul dan memakai gelar manusia karena kelakuan kami kadang nyeleneh, urakan dan terkesan apa adanya.

Seperti apa yg sudah terjadi, ketika kamipun berusaha mendatangi para siluman-siluman di daerah lain yg tercecer dari lingkaran yg katanya isinya para manusia, kami mendapat hinaan dan ejekan. Apakah kami terus mundur? tentu tidak, kami sadar kami hanya siluman yg selalu mendapat ejekan dan hinaan. Kami hanya datang dengan rasa persaudaraan dan persahabatan, kami datang tanpa pamrih, tanpa ada misi yg menguntungkan pribadi ato golongan, tanpa memandang kasta, tanpa memandang jabatan, tanpa memandang status sosial. Kami datang tanpa topeng manusia, kami datang dengan apa adanya, kami berusaha bertingkah laku seperti manusia” yang sebenarnya bila bertemu dengan golongan yg katanya manusia, bukan sebagai siluman yg  memakai topeng manusia.

Seperti kemaren kami kedatangan Siluman dari Gunung kelir yg merupakan salah satu sahabat kami. Kami menyambutnya selayaknya siluman, berbincang polos apa adanya, memisuh dengan seenak hati. Pisuhan seperti Jancooookkk!!! asuuuu, matamu, dan segala macam pisuhan khas kami.

Kami Para Siluman

walau obrolan kami di barengi dengan yg katanya manusia pisuhan dan tak pantas diucapkan, tapi itulah cara kami menyambut sahabat, memuliakan sahabat, memandang sahabat seperti saudara sendiri sehingga kami merasa tidak perlu ada sekat disana. Kami para siluman bukan seperti kalian manusia yg munafik, yg hanya bisa bermanis-manis di depan tapi dibelakang menghina, merendahkan bahkan menjelek2kan kami.

Terimakasih Buat Genthokelir yg sudah rela mendatangi kami dengan ikhlas dan membawa rasa persaudaraan dan persahabatan di pundakmu. Kami para siluman berharap kemudian hari banyak siluman-siluman lain yg akan kami temui tentunya dengan rasa persaudaraan dan persahabatan tanpa memandang status, jabatan, kedudukan, daerah, materi atau apapun itu. Kami hanya berharap kalian datang  dengan rasa persaudaraan dan persahabatan yg murni. simpel kan??




17 thoughts on “Siluman #2 [kami malu menjadi manusia]

  1. Andi Sugiarto

    memang pisuhan itu enak.

    pagi sampe sore: masih formal.. ‘selamat siang’, ‘selamat sore’ dsbnya..

    begitu maleman dikit: ‘asu, matamu yo?’ dll sudah bisa mengakrabkan kita!!

    Reply
  2. gempur

    Setelah bosan menjadi moyang negeri antah-berantah dngan sebutan mbah sangkil, sekarang bosan jadi manusia, dan memilih siluman. kalo bsan dari siluman mo jadi apa mas?

    Reply
  3. Ade Fr

    Lebih baik menjadi siluman kalau saat menjadi manusia kita bersikap munafik. Ada benarnya juga, sindiran yang sangat berbeda dari cara orang lain dalam mengkritik kekurangan manusia. Tapi bukannya siluman pun sudah mengetahui kalau manusia itu tempatnya salah?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *