Siluman #3 [Siluman Mendambakan KeDamaian]

by mbah sangkil on March 9, 2009

Puntadewa atau Yudhistira“Dhuh bendara kula, Puntadewa, Bimasena, Harjuna, ada goresan sendu di wajah kalian. Adakah sesuatu perkara besar yang melebihi kemampuan kalian untuk menanggungnya, sehingga menggelisahkan hati?”

Eyang Semar, engkau sungguh seorang panakawan pinunjul, mampu merasakan apa yang kami rasakan. Memang benar, ada perasaan yang menyesak hati. Keberadaan kami di Hastinapura rupa-rupanya tidak dikehendaki oleh para Kurawa. Mereka menunjukan sikap tidak bersahabat, bahkan mengarah pada permusuhan. Gerak-gerik kami dicurigai, kami dilarang keluar masuk benteng untuk bertatap muka dengan para kawula, sehingga kami jadi serba salah untuk melakukan sesuatu.”

“Dhuh bendara kula, dengan keadaan yang kurang menguntungkan tersebut bukan berarti kalian tidak dapat berbuat sesuatu. Bagi orang bijak, waktu jangan disia-siakan. Setiap denyutnya harus membawa manfaat. Pekerjaan itu jangan ditunggu, tetapi dikerjakan. Dharma bakti jangan dinanti, tetapi dijalani.”

“Eyang Semar, kami menjadi bingung, apa yang musti kami kerjakan?”

“Dhuh adhuh, ndoro, ndoro, bendara kula. Sampeyan itu bagaimana to? Di Saptarengga eyangmu Abiyasa telah mengajari banyak hal, baru beberapa bulan hidup di istana, rasa pangrasa kalian menjadi tumpul. Apakah kalian tidak melihat dan merasakan kehidupan di lingkungan beteng jero ini. Para abdi menjadi korban kebijakan raja, hidup dalam penderitaan dan tekanan. Mereka butuh dibela, dilindungi dan dibebaskan dari berbagai ancaman. Sebagai seorang satria masihkan kalian bertanya, apa yang musti dikerjakan?” “Eyang Semar, kami telah mencoba melakukan hal itu, namun kami malahan dituduh menentang kebijaksanaan raja dan membuat onar di beteng jero ini”

“Kalian memang harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kalian dapat melakukan sesuatu untuk sebuah keadilan, tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan membuat keonaran. Jangan berhenti karena dihalangi! Karena sesungguhnya pekerjaan mulia tidak akan pernah selesai hanya dengan berpangku tangan dan keragu-raguan.” Tanpa menunggu jawaban. Semar segera melangkah pergi. Kakinya yang besar dan kokoh menapaki hamparan pasir, melewati sela-sela pohon Sawo Beludru. Puntadewa, Bimasena dan Harjuna terpaku diam. Mereka menatap kepergian Semar hingga hilang ditelan pintu seketeng.

Begitulah kehidupan di negara hastinapura, sama seperti hidup kita, ketika kita bersosialisasi tentunya tak semua orang yg ada di lingkaran kita akan senang dengan keberadaan kita para siluman. Tunjukkan bahwa kita bisa lebih baik dari manusia walau pun kita tidak pernah akan diangkat derajat nya menjadi manusia ketika sikap dan tingkah laku kita lebih baik dari manusia. Datanglah dengan damai, berbaurlah dengan persahabatan, bersikaplah dengan sebagaimana mestinya, jgn pernah munafik, jgn pernah mengaku manusia untuk sebuah kepentingan dan butakanlah mata kita sehingga siapapun dia baik manusia atau siluman yg datang dengan rasa persahabatan dan persaudaraan dapat kita terima dengan tulus ikhlas. Terimalah hinaan dengan hati lapang dan jadikan itu sebagai cambuk untuk membuat kita menjadi lebih baik.

Dan ketika gonjang ganjing itu terjadi di lingkaran sosial kita, harusnya kita bisa bersikap lebih arif dan bijak dalam menilai persoalan. Lakukan bila kita merasa itu benar dan jangan lakukan bila kita merasa itu salah.

“Sebagai saudara tua yang kami hormati seharusnya kalian tidak mengeluarkan kata-kata pedas menusuk, karena sesungguhnya kami ingin hidup berdampingan dengan damai. Di Hastinapura ini bukankah tidak ada perbedaan diantara kita”  kata Puntadewa ke para Kurawa

{ 26 comments… read them below or add one }

1 genthokelir March 9, 2009 at 7:57 pm

wahai para pandawa yang teraniaya selalu akhirkanlah kemenangan untuk dirimu dan jangan biarkan kemunafikan menguasai dunia

Reply

2 gajah_pesing March 9, 2009 at 8:07 pm

*bingung ngapalke skrip*
Peranku dadi Harjuna kelanjutane pie? Aku gak hapal..
~ sketsa pementasan wayang wong ~

Reply

3 BUDIONO March 9, 2009 at 8:08 pm

asem komentar sek ae baru moco

Reply

4 luvie March 9, 2009 at 8:08 pm

makin di junjung, makin melambung..
tanpa segan menjadi makin arogan..
merasa paling besar jadi merasa paling benar..

jadi seperti kata dalam tempurung..

tidak mudah menjadi seorang ksatria..
tidak mudah juga menjadi sosok dewasa yang bijak..
tapi.. tidak mudah bukan berarti tidak bisa, bukan? ^_^

Reply

5 luvie March 9, 2009 at 8:10 pm

kok kata dalam tempurung? (doh) maksudnya katak.. maap mbah.. typo.. (worship)

Reply

6 ajengkol March 9, 2009 at 8:14 pm

Wonten pewayangan pun inggih kulo ingkang dedaup Dewi Kunti tansah aparing pandongo dumateng sederek sadoyo . . Halah opo to ? intinya banyak teladan yang bisa kìta petik pada dunia wayang

Reply

7 siluman March 9, 2009 at 8:17 pm

cerita wayang semacam ini harusnya sudah diakrabi oleh para dalang khan mbah?

atau jangan2 hanya sekedar dibaca dan dikutip ketika ada perlu saja tetapi tidak dihayati dalam kehidupan?

saya ingat kata-kaya eyang semar dalam cerita wayang yang lain: “kalo tidak mau dipukul jangan memukul. kalo kamu memukul trus dipukul balik jangan salahkan yang memukul”

Reply

8 kucluk March 9, 2009 at 8:26 pm

cerita-cerita pewayangan seperti ini mengingatkan saia pada rumah….

di kongkon embahku ndelok wayang karo mahami artine, jarene apik di gawe pendidikan, timbangane ndelok sinetron!…

Reply

9 siluman March 9, 2009 at 8:33 pm

sinetron itu kan dibuat oleh sutradara moto duitan. asal ceritanya bikin orang emosi dan goblok.

jangan disamakan lah, ki sanak!

wayang itu dibuat oleh empu yang bersih dari hingar-bingar kepentingan, jadi sarat akan filsafat

Reply

10 LuxsmAn March 9, 2009 at 8:44 pm

Aq DadI sENg Endi????

Reply

11 ario saja March 9, 2009 at 8:56 pm

jadi terharuuu

Reply

12 cebong ipiet March 9, 2009 at 10:23 pm

ihihihih tilik mbah sangkil

Reply

13 mantan kyai March 10, 2009 at 4:39 am

eh gajah. harjuno kan lelakonku. kowe dadi ganesha ae. podo gajahe :-D

Reply

14 mbah sangkil March 10, 2009 at 7:14 am

@genthokelir : hanya butuh semangat dan keyakinan
@gajah pesing : kowe jadi dasamuka ae yo :D
@Budiono : wes ndang gawe ISP ben gak lemot
@Luvie : bener banget, gak ada yg gak bisa selama ada usaha dan niat
@Ajengkol : Banyak hikmah dan keteladanan yg bisa dipetik, tapi sayangnya udah terlupakan dan dimakan jaman
@siluman : yg lebih sial lagi kalo akhirnya di jadikan pembenaran untuk sebuah kesalahan. Dipelintir kiri kanan
@khucluk : ayo le ndang di lestari kan
@siluman : beda banget sinetron ma wayang, wayang lebih mengedepankan moral, dan suri tauladan
@luxsman : kowe dadi siluman ae luwih pantes
@ario saja : ayo mulai moco2 cerita wayang maneh
@cebong ipiet : hai bong piye kabarmu?
@mantan kyai : kowe gak melu aku dadi durno ta?

Reply

15 suwung March 10, 2009 at 8:51 am

lha pendowo kie ora mesti bener kurowo ora mesti salah je…….
jeneng kesatrio kok bojo royokan…. (drupadi)
terus satrio kok main dadu….
weh ndunya ndunya

Reply

16 ciwir March 12, 2009 at 10:42 am

siluman kok arep maen wayang???
lha wayang opo arep maen siluman???

Reply

17 byme March 12, 2009 at 11:13 am

harjuno sosro bahu tuh bner g
byme salamkenal

Reply

18 gempur March 13, 2009 at 9:11 am

perkenalkeun, nama saya semar mendhem, bisa jadi pembantu pandawa nggak??

Reply

19 kopisusu March 15, 2009 at 6:55 pm

Jadi laper mbah..

Reply

20 suryaden March 21, 2009 at 5:52 pm

Semar memang seorang motivator yang handal, demi kebaikan harus menggunakan jalan kawicaksanan, tapi bukan berarti mundur ketika ada halangan, jadilah ular agar bisa meliuk-liuk tapi bukan seperti penari dangdut… bwahaha…

Reply

21 arifudin April 2, 2009 at 8:55 am

sungguh cerita wayang yang patut kita renungkan ;)

Reply

22 senoaji April 5, 2009 at 8:00 pm

Totowigatine urip! ada yang nglepeh karena memang kita berusaha melakukan hal2 yang dianggap baik, namun bukan berarti itu harus cocok dengan apa yang dijalankan oleh orang lain. keseimbangan dan Semar adalah keseimbangan itu. Ada kah semar2 dalam tubuh kita dan pikiran kita. Atau terus saja bermain2 dengan Togok dan Mbilung!! wakkakakakk!!

Reply

23 Anas April 8, 2009 at 8:56 am

mbah sangkil, smpeyan duwe kerjaan baru ya? ngewayang. hehehehe…

Reply

24 Pak Dhe Wicak April 8, 2009 at 10:37 pm

wah ada wayang,, jadi inget jaman masih muda..
hehehe

Reply

25 ajengkol April 16, 2009 at 2:32 pm

**DEMO DEMO** mbahsangkil nggak boleh hiatus ! (idiot)

Reply

26 afrianti takaful May 4, 2009 at 4:00 pm

Aku paling senang wayang orang meski ga tau artinya… (doh)

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: