Siluman #3 [Siluman Mendambakan KeDamaian]

Puntadewa atau Yudhistira“Dhuh bendara kula, Puntadewa, Bimasena, Harjuna, ada goresan sendu di wajah kalian. Adakah sesuatu perkara besar yang melebihi kemampuan kalian untuk menanggungnya, sehingga menggelisahkan hati?”

Eyang Semar, engkau sungguh seorang panakawan pinunjul, mampu merasakan apa yang kami rasakan. Memang benar, ada perasaan yang menyesak hati. Keberadaan kami di Hastinapura rupa-rupanya tidak dikehendaki oleh para Kurawa. Mereka menunjukan sikap tidak bersahabat, bahkan mengarah pada permusuhan. Gerak-gerik kami dicurigai, kami dilarang keluar masuk benteng untuk bertatap muka dengan para kawula, sehingga kami jadi serba salah untuk melakukan sesuatu.”

“Dhuh bendara kula, dengan keadaan yang kurang menguntungkan tersebut bukan berarti kalian tidak dapat berbuat sesuatu. Bagi orang bijak, waktu jangan disia-siakan. Setiap denyutnya harus membawa manfaat. Pekerjaan itu jangan ditunggu, tetapi dikerjakan. Dharma bakti jangan dinanti, tetapi dijalani.”

“Eyang Semar, kami menjadi bingung, apa yang musti kami kerjakan?”

“Dhuh adhuh, ndoro, ndoro, bendara kula. Sampeyan itu bagaimana to? Di Saptarengga eyangmu Abiyasa telah mengajari banyak hal, baru beberapa bulan hidup di istana, rasa pangrasa kalian menjadi tumpul. Apakah kalian tidak melihat dan merasakan kehidupan di lingkungan beteng jero ini. Para abdi menjadi korban kebijakan raja, hidup dalam penderitaan dan tekanan. Mereka butuh dibela, dilindungi dan dibebaskan dari berbagai ancaman. Sebagai seorang satria masihkan kalian bertanya, apa yang musti dikerjakan?” “Eyang Semar, kami telah mencoba melakukan hal itu, namun kami malahan dituduh menentang kebijaksanaan raja dan membuat onar di beteng jero ini”

“Kalian memang harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kalian dapat melakukan sesuatu untuk sebuah keadilan, tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan membuat keonaran. Jangan berhenti karena dihalangi! Karena sesungguhnya pekerjaan mulia tidak akan pernah selesai hanya dengan berpangku tangan dan keragu-raguan.” Tanpa menunggu jawaban. Semar segera melangkah pergi. Kakinya yang besar dan kokoh menapaki hamparan pasir, melewati sela-sela pohon Sawo Beludru. Puntadewa, Bimasena dan Harjuna terpaku diam. Mereka menatap kepergian Semar hingga hilang ditelan pintu seketeng.

Begitulah kehidupan di negara hastinapura, sama seperti hidup kita, ketika kita bersosialisasi tentunya tak semua orang yg ada di lingkaran kita akan senang dengan keberadaan kita para siluman. Tunjukkan bahwa kita bisa lebih baik dari manusia walau pun kita tidak pernah akan diangkat derajat nya menjadi manusia ketika sikap dan tingkah laku kita lebih baik dari manusia. Datanglah dengan damai, berbaurlah dengan persahabatan, bersikaplah dengan sebagaimana mestinya, jgn pernah munafik, jgn pernah mengaku manusia untuk sebuah kepentingan dan butakanlah mata kita sehingga siapapun dia baik manusia atau siluman yg datang dengan rasa persahabatan dan persaudaraan dapat kita terima dengan tulus ikhlas. Terimalah hinaan dengan hati lapang dan jadikan itu sebagai cambuk untuk membuat kita menjadi lebih baik.

Dan ketika gonjang ganjing itu terjadi di lingkaran sosial kita, harusnya kita bisa bersikap lebih arif dan bijak dalam menilai persoalan. Lakukan bila kita merasa itu benar dan jangan lakukan bila kita merasa itu salah.

“Sebagai saudara tua yang kami hormati seharusnya kalian tidak mengeluarkan kata-kata pedas menusuk, karena sesungguhnya kami ingin hidup berdampingan dengan damai. Di Hastinapura ini bukankah tidak ada perbedaan diantara kita”  kata Puntadewa ke para Kurawa




26 thoughts on “Siluman #3 [Siluman Mendambakan KeDamaian]

  1. luvie

    makin di junjung, makin melambung..
    tanpa segan menjadi makin arogan..
    merasa paling besar jadi merasa paling benar..

    jadi seperti kata dalam tempurung..

    tidak mudah menjadi seorang ksatria..
    tidak mudah juga menjadi sosok dewasa yang bijak..
    tapi.. tidak mudah bukan berarti tidak bisa, bukan? ^_^

    Reply
  2. ajengkol

    Wonten pewayangan pun inggih kulo ingkang dedaup Dewi Kunti tansah aparing pandongo dumateng sederek sadoyo . . Halah opo to ? intinya banyak teladan yang bisa kìta petik pada dunia wayang

    Reply
  3. siluman

    cerita wayang semacam ini harusnya sudah diakrabi oleh para dalang khan mbah?

    atau jangan2 hanya sekedar dibaca dan dikutip ketika ada perlu saja tetapi tidak dihayati dalam kehidupan?

    saya ingat kata-kaya eyang semar dalam cerita wayang yang lain: “kalo tidak mau dipukul jangan memukul. kalo kamu memukul trus dipukul balik jangan salahkan yang memukul”

    Reply
  4. kucluk

    cerita-cerita pewayangan seperti ini mengingatkan saia pada rumah….

    di kongkon embahku ndelok wayang karo mahami artine, jarene apik di gawe pendidikan, timbangane ndelok sinetron!…

    Reply
  5. siluman

    sinetron itu kan dibuat oleh sutradara moto duitan. asal ceritanya bikin orang emosi dan goblok.

    jangan disamakan lah, ki sanak!

    wayang itu dibuat oleh empu yang bersih dari hingar-bingar kepentingan, jadi sarat akan filsafat

    Reply
  6. mbah sangkil Post author

    @genthokelir : hanya butuh semangat dan keyakinan
    @gajah pesing : kowe jadi dasamuka ae yo 😀
    @Budiono : wes ndang gawe ISP ben gak lemot
    @Luvie : bener banget, gak ada yg gak bisa selama ada usaha dan niat
    @Ajengkol : Banyak hikmah dan keteladanan yg bisa dipetik, tapi sayangnya udah terlupakan dan dimakan jaman
    @siluman : yg lebih sial lagi kalo akhirnya di jadikan pembenaran untuk sebuah kesalahan. Dipelintir kiri kanan
    @khucluk : ayo le ndang di lestari kan
    @siluman : beda banget sinetron ma wayang, wayang lebih mengedepankan moral, dan suri tauladan
    @luxsman : kowe dadi siluman ae luwih pantes
    @ario saja : ayo mulai moco2 cerita wayang maneh
    @cebong ipiet : hai bong piye kabarmu?
    @mantan kyai : kowe gak melu aku dadi durno ta?

    Reply
  7. suwung

    lha pendowo kie ora mesti bener kurowo ora mesti salah je…….
    jeneng kesatrio kok bojo royokan…. (drupadi)
    terus satrio kok main dadu….
    weh ndunya ndunya

    Reply
  8. suryaden

    Semar memang seorang motivator yang handal, demi kebaikan harus menggunakan jalan kawicaksanan, tapi bukan berarti mundur ketika ada halangan, jadilah ular agar bisa meliuk-liuk tapi bukan seperti penari dangdut… bwahaha…

    Reply
  9. senoaji

    Totowigatine urip! ada yang nglepeh karena memang kita berusaha melakukan hal2 yang dianggap baik, namun bukan berarti itu harus cocok dengan apa yang dijalankan oleh orang lain. keseimbangan dan Semar adalah keseimbangan itu. Ada kah semar2 dalam tubuh kita dan pikiran kita. Atau terus saja bermain2 dengan Togok dan Mbilung!! wakkakakakk!!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *