Ayo Jangan Terlena

 

Mendekati Pilpres 2009 besok, masyarakat dihadapkan pada 3 permasalahan besar yg harus di selesaikan.

Permasalahan Pertama

Kasus DPT (daftar pemilih tetap) yg masih simpang siur bahkan boleh dibilang mbulet kayak entut. Bagaimana gak mbulet bin kusut kalo masih banyak warga negara yg mempunyai hak pilih belum terdaftar, tetapi warga negara yg belum mempunyai hak pilih bahkan yg sudah meninggal malah terdaftar. Belum lagi dengan jumlah DPT di sebuah daerah yg jumlahnya melebihi dari penduduk daerah tersebut yg berhak memilih.

Permasalahan Kedua

Manohara yg katanya “di tawan” oleh suaminya menurut ibunda Manohara. Kasus ini menjadi besar karena tertuduh adalah pangeran dari sebuah kerajaan di negara tetangga kita yaitu malaysia. Kasus ini juga menjadi besar karena melibatkan hubungan bilateral antar 2 negara yaitu indonesia dan malaysia dan hebohnya lagi kasus ini sudah melibatkan banyak pihak yg tidak berkepentingan dan gak jelas hubungannya.

Permasalahan Ketiga

Pembunuhan Nasrudin yg katanya  melibatkan Antasari Azhar yg merupakan ketua KPK (Komisi pemberantasan Korupsi). Kasus ini juga menjadi besar karena katanya lagi pembunuhan ini terjadi karena cemburu dan perselingkuhan yg melibatkan seorang caddy girl yg katanya juga cantik dan seksi

Saya gak mau membahas hal2 di atas layaknya infotainment ato tukang gosip amatiran untuk ketiga kasus di atas, tapi saya lebih suka menganalisa menurut versi saya sendiri. Analisa yg tentu juga ngawur, ngasal, asal njeplak bahkan sak enak udel ku dewe

Yang namanya politik, segala cara pasti dihalalkan. Politik juga tidak akan bisa berjalan tanpa support dari elemen2 lain nya. Dalam ketiga kasus di atas kasus pertama awalnya mendapatkan sorotan yg lebih dari masyarakat, dan bisa dibilang pihak2 yg bermain di dalamnya hampir2 terdesak. Kita Tau KPK mulai bersikap dengan menerjukan kan timnya untuk menyelidiki tender pengadaan IT KPU yg nilainya ratusan milyar wow fantastis.

Tak lama setelah itu munculah kasus Manohara yg langsung meledak karena media2 indonesia mem blow up habis2an. Dalam kasus tersebut diceritakan bagaimana perjuangan seorang ibu yg berusaha mendapatkan anaknya kembali yg katanya disandera oleh pangeran dari kerajaan kelantan. Berita yg ada di semua media juga simpang siur dan akhirnya siapa yg salah dan siapa yg benar juga menjadi simpang siur karena tiap2 pihak saling membuat alibi. Semua mata masyarakat akhirnya tertuju oleh kasus ini, dari yg namanya koran, media, majalah, tabloid, televisi, radio bahkan blogger sendiri memblowup habis2an. Teralihkan lah fokus masyarakat kita dari kasus pertama yaitu DPT dan kecurangan pemilu.

Tak lama kemudian muncul kasus yg lebih besar yaitu pembunuhan Nazrudin direktur RNI yang melibatkan ketua KPK. Kasus ini benar-benar menjadi buah bibir dan hampir semua masyarakat berusaha mengupdate beritanya. Dan kali ini masyarakat benar2 hampir bahkan nyaris melupakan maslaah sebenarnya bangsa ini yaitu Komponen-komponen pemilihan presiden indonesia yg masih carut marut. Berita kecurangan DPT, KPPU bahkan penggelembungan suara dan berita koalisi sudah tidak menarik lagi dibandingkan dengan berita siapa itu Rani, berapa bayaran Rani, benarkah Antasari itu selingkuh dan gosip2 lain yg belum tentu jelas kebenarannya. Belum lagi media2 kita terutama televisi dan koran berusaha mendapatkan updated berita soal kasus ketiga ini, udah kayak film seri lah pokoknya

ok kita lanjut lagi, apakah memang ada keterkaitan politis di antara kasus2 di atas? Bisa ya bisa tidak karena saya tidak terlibat didalamnya. tapi saya mengambil kesimpulan sendiri dari apa yg saya lihat, baca dan dengarkan. Adakah pihak2 yg di untungkan? ini sebagian analisis saya yg mungkin benar mungkin juga salah ( kayaknya banyak salahnya)

1. KPU mulai bisa bernapas lega karena paling tidak penyelidikan IT KPU yg bernilai milyaran akan tertunda (bisa iya bisa tidak tergantung dari KPK)

2. Kasus DPT dan kecurangan Pemilu akan  teralihkan, semua fokus mata masyarakat akan tertuju pada kasus Nasrudin

3. Bukan hal baru kalau oknum2 di kejaksaan yg korup ada yg gak suka dengan KPK, dengan adanya kasus ini tentu oknum2 itu akan tertawa ngakak-ngakak

4. Oknum anggota dewan yg korup yg selama ini tiarap mungkin mulai tertawa2 juga melihat ketua KPK yg menjadi musuh utama mereka terjerat kasus

5. Blogger2 akan menuai traffic dengan kata kunci dari 3 kasus di atas hahahahahahaha

Demikian sedikit analisa saya, jgn pernah menjadikan acuan atau referensi untuk bahan perbincangan dan diskusi, karena analisa saya adalah analisa ngawur dan ngasal

Ayo kembali fokus




27 thoughts on “Ayo Jangan Terlena

  1. senoaji

    kasus diatas hanyalah evokasi dari siffat dasar Republik, latah!

    dilatahkan! selatah-latahnya! kemudian yang punya kepentingan dan ingin melarikan diri dari sorotan jejaring media, memanfaatkan untuk membangun kembali manuver-manuver dan penjegalan politik.

    tapi yo mbuh! 1+1=kapan menjadi 11

    Reply
  2. mbah sangkil Post author

    @gajah yang selalu pesing
    suruh neken janji di atas kertas hitam putih sek, ben gak di plintir
    @ajengkol
    ya itu dia, bangsa ini lebih suka bergosip daripada berprinsip

    @denologis
    lanjut kemana

    @senoaji
    mangan tauge sing akeh, trus setahun 1 pasti 1+1 entuk 11

    Reply
  3. Xitalho

    Oalah.. bingung mbah.. Apa memang diskenario atau memang kebetulan saja… kayaknya koq saling berhubungan ..tapi kayaknya koq nggak berhubungan satu sama lain…?
    Sing cucok ancene .. berebut trafik dng memasang perangkap kata itu..hehehehe…

    Reply
  4. galuharya

    analisa sak karep udelmu iku dull…..

    tapi tak woco tak pikir maneh emang masuk dalam angan-angan logikaku

    saya juga mencium ini sebuah pengalihan perhatian
    entah sengaja atau tidak

    sing jelas aku wes lego jenengku masuk DPT

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *