Versi Saya

Kasus Ibu Prita Mulyasari yang semula hanya masalah komplain konsumen terhadap sebuah Tempat Pelayanan Masyarakat akhirnya menjadi efek bola salju yang terus membesar. Perkara yang awalnya hanya komplain akhirnya menjadi perkara yang complicated yang melibatkan banyak orang. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Saya akan menguraikan menurut versi saya.

Kasus ini menjadi complicated karena sudah banyak pihak2 yang terlibat didalamnya. Awalnya pihak Rs saya gak akan menyebutin namanya bukan karena takut dipenjara tapi karena saya benar2 gak respek sama Rs yang satu ini.  Mungkin Rs ini awalnya beranggapan bahwa mereka akan dengan mudah dalam menyelesaikan kasus ini ketika mereka membawa kasus ini ke ranah hukum. Langkah ini juga tidak terlepas dari langkah awal mereka ketika mememangkan sidang perdata atas kasus ini. Sayangnya seiring berjalannya waktu dan ketika mereka berusaha menjerat dengan pasal berlapis dengan memasukkan UU ITE ke dalamnya mereka malah membuat blunder. Langkah yg menurut pikiran mereka harusnya membuat “jera” Bu Prita malah menjadi senjata makan Tuan ketika hal ini di ketahui para Blogger dan penikmat dunia maya. Lho kenapa para blogger dan penikmat dunia maya menjadi ikut2an termasuk saya? hal ini lebih didasarkan pada UU ITE sendiri yang masih rancu dan dari awal kemunculannya memang ditentang banyak pihak karena bisa menjadi pasal karet. Dukungan datang dari Berbagai kelompok Blogger tanah air, facebook, bahkan forum2 di dunia maya kepada Bu Prita. Bola yang seharusnya berada di Rs ini skrg berpindah ke Bu Prita karena dukungan dari berbagai pihak, bahkan ketiga calon presiden sudah menyatakan sikap atas kasus ini dan semuanya hampir2 berpihak kepada Bu Prita.

Kasus yang awalnya hanya melibatkan konsumen dan penyedia jasa skrg sudah membesar sapai ke level lembaga peradilan dan kepolisian. Seperti yang kita ketahui jaksa dan polisi yang menyidik kasus ini akhirnya juga ikut2an terseret untuk di periksa apakah prosedur hukumnya sudah sesuai ketentuan atau belum. Seandainya pemeriksaan nanti menemukan indikasi “penyelewengan prosedur” bukan tidak mungkin mereka akan mendapatkan sanksi dari lembaganya masing2

Dalam bidang marketing, hubungan antara konsumen dan produsen atau penyedia jasa itu sangat penting. Konsumen sebagai pemakai harusnya benar2 diperhatikan karena dari merekalah segala kekurangan dan keluhan didapatkan. Sudah selayaknya keluhan dan complain konsumen dijadikan masukkan bukan dijadikan sesuatu hal yang memalukan. Opini publik juga penting dalam memasarkan produk dan jasa kita, dan yang terjadi dalam kasus Rs ini pihak penyedia jasa terlalu berlebihan dalam menanggapi keluhan konsumen dan akhirnya malah membuat opini yang tidak baik buat dirinya sendiri. Senjata makan Tuan

Saya akan berandai2 saja sekarang 

Seandainya Rs saya gak akan menyebutin namanya bukan karena takut dipenjara tapi karena saya benar2 gak respek sama Rs yang satu ini  mau berbesar hati dalam menerima keluhan dan menanggapinya dengan benar tentu kasus ini gak akan berlarut2 seperti sekarang ini.

Seandainya saya jadi owner atau komisaris dari rumahsakit ini saya akan me non-aktifkan pihak2 rs yang terlibat dan meminta maap atas kesalahan yang rs lakukan dan berbesar hati menarik tuntutan bahkan berusaha mengembalikan nama baik Bu Prita. Kenapa saya akan berbuat demikian? Rs adalah penyedia jasa yang mana pelayanan kepada konsumen adalah yang nomor 1 dan harus benar2 dijaga dan ditingkatkan. Dalam kasus Rs ini nama baik mereka sudah tercemar dan benar2 sudah di cap buruk oleh jutaan orang, dan untuk mengembalikan nama baik ini bukan hal yang mudah dan instant. Butuh waktu dan biaya yang besar. Jadi sebelum semuanya menjadi berefek yang lebih buruk lagi, maka saya akan melakukan amputasi. Kalo hal ini dibiarkan berlarut2 dan seperti ini, saya yakin sekali bahwa pengunjung rumahsakit ini akan menurun drastis dan sampai pada titik tertentu tidak menutup kemungkinan akan bangkrut semoga bangkrut aja biar kapok




14 thoughts on “Versi Saya

  1. suryaden

    berhubung sudah cemar, mending jadikan lokalisasi sekalian aja rsnya, trus buka layanan UGD saja… untuk cek kesiapan masuk kamar… hahaha

    Reply
  2. fahmi!

    perandai2anmu itu persis seperti yg aku pikirkan, dan aku juga posting solusi yg sama di blogku. ini dokter2 mungkin paham betul urusan medis, tapi soal relasi dg publik masih perlu banyak belajar ya. jalur hukum yg mereka tempuh itu sebenernya aksi bunuh diri. semoga segera ada jalan keluar yg baik untuk semua pihak. aamiin.

    Reply
  3. Dum

    manajemen rumah sakit itu kok goblok banget ya? (thinking)
    seandainya dulu masalahnya diselesaikan secara kekeluargaan, dan ditambah sekali jumpa pers untuk pemulihan nama dan perbaikan kinerja, kan malah ndak tambah hancur gini.
    lah sekarang? udah repot2 ngajukan ke pengadilan. dan pasti namanya anjlok seanjlok-anjloknya. misakne puol.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *