Bermain Cap Ji Ki

Beberapa tahun yg lalu saya pernah diajak teman berlibur ke daerah asalnya atau kampung halamannya. Waktu berlibur itu kami habiskan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yg ada disana dan sempat beberapa hari juga berkemah di pantai yg sebenarnya bagus tapi gak terawat. Malam sebelum saya kembali pulang kandang saya diajak teman saya mengunjungi sebuah lokalisasi, bukan untuk melepas hajat dan memanjakan syahwat, tapi hanya sekedar memuaskan rasa keingintahuan seperti apa keadaan lokalisasi disana, apakah seperti dolly di surabaya yg penuh dengan akuarium-akuarium manusia atau seperti garuda [udah tutup] di malang yg lebih seperti homestay mesum, ataukah seperti panti panti pijat di daerah kedungdoro surabaya.

sesampainya di sana saya berkeliling dan mendadak mata saya tertuju pada kerumunan orang di sebuah tanah lapang, dari sana terdengar makian serta teriakan2 yg membuat saya bertanya-tanya. Saya dekati dan ternyata mereka mengerumuni seseorang yg duduk bersila sambil memegang bola hitam kecil dan di depannya ada sebuah kotak dengan gambar-gambar warna warni. Para penonton yg mengelilingi orang tersebut kemudian letakkan selembar uang ribuan di atas warna dan bentuk yg dipilihnya. Kemudian orang tersebut [yg ternyata adalah bandarnya] melemparkan bola hitam kecil tersebut ke atas kotak dan orang2 yg mengelilinginya berteriak2 meyebutkan warna dan bentuk tempat mereka menaruh uang ribuan tersebut. kemudian bola tersebut bergerak dengan liar ke segala arah tanpa pola atau random dan akhirnya berhenti di sebuah warna dan bentuk.  Beberapa orang akhirnya berteriak dan memaki-maki karena gambar dan warnanya meleset, dan hanya 1 orang yg berteriak kegirangan karena gambar dan warnanya coco, dan sang bandar akhirnya memberikan bayaran 10x lipat dari jumlah uang pasangannya. Lumayan seribu jadi 10 ribu :p

Cerita diatas adalah penjelasan dari pertanyaan seorang kawan kepada saya “mbah kok saya pesimis dengan hukum melihat kasus-kasus yg terjadi akhir-akhir ini berasa ngambang dan jauh dari penyelesaiannya”.

“gini ya le, kan tadi udah kuceritakan salah satu judi yg pernah kusaksikan sendiri dan terlihat bahwa bola itu bergerak liar tanpa arah dan tidak pernah ada yg bisa memprediksi kemana arah bergulirnya bola itu, kecuali bandarnya kalo memang dia melakukan kecurangan dengan alat yg digunakan. Sama dengan kasus-kasus yg ada di republik ini”.

Si mbah kemudian membakar lagi sebatang rokok putihnya “mbah kasih contoh Kasus Ryan sang jagal dari jombang, pada awalnya semua memprediksi bahwa ketika identitas korban terkahir atau Mr X itu terbongkar, maka berkas perkara Ryan kan menjadi P21 atau sudah lengkap untuk dibawa ke meja hijau. Tapi apa yg terjadi, sama seperti cap ji ki tadi, ternyata ketika bola itu diharapkan berhenti pada warna dan bentuk yg diinginkan, eh malah bergulir ke arah yg makin gak jelas. Ketika identitas mr X itu terbongkar malah membuka kasus baru yaitu salah tangkap oleh polisi. Ujung2nya bukan lagi kasus ryan yg menjadi headline tapi kasus sengkon dan karta baru yg menjadi headline. Bagaimana polisi yg katanya profesional bisa salah mengidentifikasi korban dan salah menentukan tersangka? kenapa pada saat itu tidak dilakukan tes DNA korban dengan keluarganya? kenapa juga ada suara-suara bahwa polisi menggunakan kekerasan untuk memaksakan BAP di setujui?”

sang teman hanya diam dan cuma bisa berkata “trus?”

si mbah kembali membakar rokoknya karena rokok yg tadi sudah tinggal filternya. “Itu masih satu kasus, masih ada lagi kasus yg lebih parah”. Mbah kembali menghisap rokoknya dalam-dalam. “Kasus urip dan alin yg akhirnya menyeret beberapa petinggi kejaksaan agung dan pejabat negara yang akhirnya menjadi bola liar juga karena semua menjadi gak jelas arahnya. Padahal jelas-jelas bukti rekaman pembicaraan, fisik, pengakuan dan beberapa saksi-saksi tetapi kenapa kesannya kok ruwet banget yah? apakah karena yg bermain cap ji ki itu adalah petinggi-petinggi sehingga hukum pun sulit menjeratnya? atau memang karena sang bandar sudah mengatur agar bola itu bergerak liar dahulu sambil pelan-pelan menentukan siapa yg akan menjadi kambing hitamnya? atau ada motif lain yg mbah sendiri gak tau.”

“Trus enaknya gimana mbah?”

“enaknya ya jangan bermain cap ji ki, berusaha menghindari hal-hal yg bisa menjadikan kita sebagai kambing hitam, mawas diri, introspeksi diri dan tetap berdoa”

“sek.. sekarang hubungan cap ji ki ama lokalisasi apa mbah?”

“hubungannya ya sama-sama jgn dilakukan, karena sama-sama liar bolanya. Cap ji ki bolanya bergerak liar dan kemungkinan untuk kalahnya sangat besar, kalo lokalisasi enaknya sebentar, resikonya bisa seumur hidup kalo bola liar itu berhenti di salah satu penyakit kelamin yg tersebar dengan bebas di daerah itu”

“Mbah!!… kalo mau ningkatin traffic blog gimana?

“kalo itu tanya pakarnya aja, mbah mah gak ngurusin traffic, mau tinggi mau rendah gak perduli kok”

akhirnya obrolan pagi itu di tutup dengan ajakan untuk pulang karena hari sudah semakin siang dan semua sudah merasa ngantuk.




3 thoughts on “Bermain Cap Ji Ki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *