Patung Itu Bernama Blogger

Saya sedikit tergelitik dengan sebuah tulisan yang diposting oleh seorang blogger di blognya.  Mental Blogger Indonesia menjadi sorotan terutama blogger pemula yang menurut pendapat pribadinya mereka hanya mempercantik blog saja tapi tidak memperhatikan kualitas tulisannya.

Salahkan pendapat orang ini? saya sendiri mengatakan tidak salah karena dari apa yang dia tulis ada niatan positip untuk mengajak para blogger untuk menjadi lebih baik. Lebih baik disini dalam arti kualitas konten dan mental asal kopas atau penjiplak dihindari.  Saya dukung apa yang disampaikan oleh beliau tapi saya tidak sepakat apabila itu menjadi sebuah generalisasi dan sebuah keharusan dalam nge-blog.

Sebagai seorang yang selalu ingin berbagi baik itu dunia blogging maupun dunia internet, saya merasakan betul transformasi menjadi blogger. Peta identitas blogger sendiri sebenarnya terbagi menjadi 3 besar:

1. Blogger Monetize

Blogger tipe ini adalah blogger yang memang memfokuskan blog mereka untuk mencari penghasilan. Traffik adalah tujuan utama mereka tapi bukan berarti trus konten mereka asal2an. “Kopas” hanya salah satu cara mengisi konten blog mereka tapi mereka harus melakukan kopas dengan elegan karena mereka di awasi oleh google dengan senjata duplikat kontennya. Konsekwensi kopas dengan semena2 tidak main-main, mereka bisa kehilangan penghasilan cuma karena senjata google yaitu duplikat konten bisa “memenjarakan” mereka.

2. Blogger non Monetize

Blogger dengan tipe ini adalah blogger yang biasanya menjadikan blog mereka sarana untuk menuangkan ide, gagasan, unek-unek, pengalaman dan keinginan mereka untuk berbagi dalam bentuk tulisan maupun photo. Blogger seperti ini biasanya tidak perduli dengan traffic, mereka hanya menulis sebagai penuangan isi otak mereka. Diskusi menjadi salah satu hal pokok pada blogger tipe ini.

3. Blogger lainnya

kategori ini biasanya diisi oleh blogger yang sedang mencari jatidiri, sedang mencari arah dan tujuan mereka ngeblog. Banyak blogger pemula yang masuk dalam kategori ini.

Dari ketiga tipe Blogger di atas, Kategori ke 3 ini yang harusnya mendapat perhatian lebih dari kita semua karena disinilah awal mereka berjalan. Mereka belum punya tujuan dan belum tau apa yang akan mereka hadapi selama perjalanan blogging mereka. Mereka belum tau bahwa mereka bisa dimangsa oleh UU ITE karena tulisannya. Mereka bisa juga menjadi “target operasi” sekelompok blogger lain karena opininya, belum lagi ketika mereka “disesatkan” oleh paham sekelompok blogger lain dan masih banyak lagi.

Kembali kepada wacana mental blogger indonesia

Jika 3-4 tahun lalu kita bisa dengan mudah mengajak orang lain untuk nge-blog, saat ini terasa sangat sulit sekali. Pengalaman saya selama menjadi blogger, saat ini jangankan untuk mengajak orang lain nge-blog, baru bicara apa itu blog aja terkadang segudang alasan sudah mereka utarakan untuk menolaknya. Dari alasan yang tidak ada waktu, tidak bisa menulis, bingung caranya, sampai pada alasan sia2 kalo udah nulis banyak2 ternyata gak ada yang lihat.

faktor penghalang lain adalah semakin maraknya sosial media. Tidak bisa dipungkiri sosial media adalah pukulan telak buat para penggiat blog. Orang menjadi males untuk menuliskan ide, gagasan, pikiran dan unek2 mereka di blog, tapi menjadi rajin untuk berkicau di sosial media. Hal ini tidak terjadi pada masyarakat yang awam blog tapi juga terjadi pada para blogger2 yang sudah malang melintang di dunia blogsphere.

Perlu usaha lebih dari penggiat blogging, perlu kreativitas dan ide baru dalam cara mengajak atau cara membimbing mereka. Oleh sebab itu Bila ada blogger baru ya harus kita dukung, jangan kita cela karena mereka hanya mempercantik blog mereka tapi tidak memperhatikan konten. Biarkan mereka nyaman dan betah di rumah blog mereka, biarkan mereka mencintai blog mereka dulu dengan caranya, biarkan mereka berkreativitas dulu dengan ide2 dan keinginan mereka pada blog mereka, biarkan mereka membangun lingkugan sekitar rumah blog mereka. Ketika mereka sudah merasa nyaman dengan blog mereka saya yakin secara otomatis mereka akan mengisi ruang2 di blog mereka dengan tulisan walau pada awalnya tulisan itu tidak indah. Tugas kita sebagai penggiat blog adalah membimbing mereka bagaimana mengisi konten dan yang paling penting apa yang mereka lalukan ini sesuai dengan etika blogging. Kita wajib membimbing supaya Apa yang mereka lakukan tidak membawa dampak hukum pada mereka. Kita jangan pernah mengekang mereka dengan keharusan tatacara dan kesempurnaan menjadi seorang blogger. Biarkan mereka tumbuh dengan caranya sendiri, biarkan mereka menjadi blogger dengan citra mereka sendiri. Biarkan mereka menjadi blogger dengan kesadaran mereka bukan karena paksaan dan ancaman. Sesuatu yang dikerjakan secara sadar dan gembira akan menghasilkan sebuah karya yang indah.

Ibarat sebuah patung, blogger pemula adalah sebongkah kayu yang belum berbentuk, masih utuh dan penggiat blog adalah pemahatnya. Kita wajib membentuk kayu itu menjadi bentuk patung yang indah. Setelah menjadi patung kita juga harus menjaganya karena bila tidak dijaga akan rusak karena rayap, lingkungan sekitarnya dan juga waktu.

 Happy Blogging

@denkenthir




17 thoughts on “Patung Itu Bernama Blogger

  1. Sriyono Semarang

    saya nulis dengan foto foto seputar tempat tinggal, mbantuin pak wali yang udah sangat giat mbangun kota tempat tinggal ini, dengan engine blog, tetep di monetize, tetapi saya belum berani nyebut diri ini blogger mbah… bingung masuk yang mana ya ini… 🙂

    Reply
  2. ino putro

    hhihhi,, gak sengaja mampir di masta blogger, , ,
    kalo q masuk di bgian mana ya,,,
    ah yang penting tetep nulis aja deh,, mau ada yang liat ato nggak terserah,, 🙂

    Reply
  3. Andy

    Kalau saya kembali lagi kepada tujuan utama pada pertama kali membuat blog,kalau tujuan cuma iseng 2 doank ya hasilnya pasti blog hanya dijadikan tempat pamer bukan membuat readers menjadi audience yang baik

    Reply
  4. ciput

    Luar biasa. Saya sharing : awal saya suka blog karena saya modifikasi tampilan, kemudian mencari bentuk, hingga akhirnya sampai sekarang ini. Kurang lebih 3 tahun saya ngeblog. Memang sekarang ini FB, Twetter seolah menggeser blog. Namun Militan blog masih setia dengan tulisan di blog mereka, dan saya rasa tidak akan pernah berhenti.

    Reply
  5. loewyi

    Wah setuju…. saya juga pernah mendapatkan perkataan seperti itu dari salah seorang teman saya. saya pun juga gak setuju, coz saya pikir setiap orang memiliki haknya masing-masing dan memiliki pemikirannya masing-masing terhadap segala sesuatu yang dikerjakannya, termasuk dalam hal nge-blog.

    Selam kenal. 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *