Badai Belum Berlalu

531px-KPU_Logo.svg

Hasil Final perhitungan suara di KPU sudah diumumkan. Ada Partai yang perolehan persentase suaranya meningkat dan ada partai yang persentase suaranya menurun jika dibandingkan dengan perolehan mereka di pileg 2009. Seperti biasa, rasa tidak puas atas hasil yang diperoleh partainya menjadi episode selanjutnya. Berbagai alasan dikemukakan dari yang mengatakan suara partai mereka dicuri sampai dengan hasil yang didapat adalah konspirasi asing. Bukan kesalahan menganggap bahwa mereka dicurangi, silahkan mencari bukti bukti dan ajukan bukti bukti tersebut ke MK untuk mencari kepastian hukumnya. Susahnya adalah bila keputusan MK nanti tetap memutuskan bahwa Hasil dari perhitungan KPU adalah SAH, biasanya si pemohon akan mengatakan bahwa MK “curang”. Tapi bila hasilnya nanti MK mengabulkan permohonan si pelapor, mereka akan mengatakan bahwa MK adalah lembaga yang jujur, yang baik, yang benar dan sebagainya.

Hasil Final Perhitungan pileg versi KPU adalah

  1. Golput 24.89%
  2. PDIP 23.681.471 (18.95%)
  3. Golkar 18.432.312 (14.75%)
  4. Gerindra 14.760.371 (11.81%)
  5. Demokrat 12.728.913 (10.19%)
  6. PKB 11.298.957 (9.04%)
  7. PAN 9.481.621 (7.59%)
  8. PKS 8.480.204 (6.79%)
  9. Nasdem 8.402.812 (6.72%)
  10. PPP 8.157.488 (6.53%)
  11. Hanura 6.579.498 (5.26%)
  12. PBB 1.825.750 (1.46%)
  13. PKPI 1.143.094 (0.91%)

Dari Hasil di atas dapat dilihat bahwa golput menurun dibandingkan tahun 2009 yg berkisar 40%. Menurunnya angka golput pada pileg 2014 bisa jadi dikarenakan masyarakat sudah terdidik untuk menjadi pemilih yang cerdas. Kampanye dan sosialisi jangan golput baik dari lembaga kemasyarakatan, pemerintah dan partai sepertinya berjalan efektif.

PDIP menjadi pemenang menurut perhitungan final KPU. Kemenangan ini tidak terlepas dari sosok seorang Joko Widodo yang digadang gadang menjadi capres oleh PDIP.  Gubernur DKI Jakarta ini terkenal dengan kedekatannya kepada rakyat. Blusukan menjadi ciri khas beliau. Banyak orang menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk sebuah pencitraan, tapi rakyat melihat sebaliknya. Masyarakat melihat ada ketulusan dan kejujuran dalam melakukan blusukan, ini terbukti dengan perolehan suara PDIP yang meningkat dibandingkan tahun 2009 lalu.

PKS yang menjadi kuda hitam pada pileg 2009 ternyata mengalami penurunan jumlah pemilih di tahun 2014. Penurunan ini bisa disebabkan dengan tertangkapnya LHI sang presiden partai karena kasus Korupsi sehingga banyak kader yang kecewa terhadap partainya. Belum lagi cara kampanye kurang simpatik para kadernya di sosmed. kampanye negatip dan kampanye hitam selalu di luncurkan untuk menyerang capres dan partai tertentu. Kegiatan kontraproduktip seperti ini lah kemungkinan yang menjadikan suara PKS berkurang di Pileg ini

Gerindra yang tahun 2009 hanya mendapat suara di kisaran 4% pada pileg 2014 ini menjadi kuda hitam dengan perolehan suara di kisaran 11 %. Kenaikan ini tidak terlepas dari pencitraan sang nahkoda Prabowo yg dimulai lebih dari 5 tahun yang lalu. Kampanye yang mencitrakan bahwa prabowo adalah sosok prajurit yang cinta tanah air dan dibarengi dengan melakukan kampanye penarik simpati dengan masif membuat masyarakat menjadi kepincut kepada beliau.

Golkar, seperti biasanya selalu nangkring di urutan 3 besar. Sebagai partai tua dengan kemampuan berpolitik para kadernya yang di atas rata rata membuat partai ini selalu berada di atas. Harus di akui bahwa struktur organisasi dan kemampuan mesin partainya sangat mumpuni. Di tahun 2014 ini diramalkan golkar akan terseok seok karena sang ketua umumnya ARB sangat dekat dengan masalah. Mulai dari kasus lumpur Lapindo, BUMI sampai dengan isu boneka beruang. Kenyataan berkata lain, Golkar masih berada di urutan ke 2 dibawah PDIP.

Partai Demokrat yang 2009 berada di urutan pertama perolehan suara, di tahun 2014 ini turun di peringkat ke 4. Penurunan ini dapat dimaklumi dikarenakan kader-kadernya mulai dari bawah sampai dengan ketua umum sebelumnya terjerat kasus korupsi. Kasus hambalang, Anas, Nazaruddin sampai dengan diduga terkait dengan century membuat masyarakat antipati terhadap partai ini.  Partai yang 2 kali memenangkan pileg ini ternyata masih bisa bertahan di atas kisaran 10%.

Untuk PKB sendiri pileg tahun 2014 ini menjadi kuda hitam ke 2 setelah gerindra. Jika tahun 2009 lalu mendapatkan perolehan suara di kisaran 4% di tahun 2014 ini mendapatkan suara di kisaran 9%. Rhoma Effect sepertinya menjadi kunci perolehan suara PKB di pileg ini selain nama Mahfud MD.

Untuk Hanura dan Nasdem juga mengalami kenaikan. Kampanye di media seperti televisi sepertinya efektif walaupun belum signifikan. Untuki sesuatu yang instan, kedua partai ini bisa dikatakan berhasil menaikkan jumlah pemilih walaupun masih belum memenuhi target utama perolehan suara yang ditetapkan partai.

Dari gambaran di atas bisa disimpulkan bahwa jangan lagi beranggapan bahwa masyarakat sudah bodoh, masyarakat gampang dibohongi dengan data, opini dan rumor yang di rekayasa. Berhati hatilah dalam melakukan kampanye hitam karena masyarakat sudah bisa menilai mana yang benar mana yang salah. 




3 thoughts on “Badai Belum Berlalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *