Lanjutan Debat Capres 2014

03062014_162127_Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK

Debat capres 2014

Debat capres 2014 semalam secara pribadi kurang menarik bagi saya. Dibandingkan dengan Pilkada DKI kemaren jelas jauh bedanya. Debat seharusnya menghadapkan kubu dengan tingkat penguasaan bahan yang sama, beradu argumen mempertahankan pendapatnya. Untuk debat capres semalam kubu yang berhadapan adalah kubu konseptor dan kubu eksekutor. Seorang kawan bahkan berpendapat bahwa debat ini akan menjadi hambar karena yg berdebat adalah pemimpi vs pekerja. Seorang pemimpi boleh saja bermimpi sesuatu yg indah, yang sempurna, yang optimal. Bagaimana mewujudkan mimpi tersebut? seorang pemimpi harus bekerja, harus menguasai masalah dan harus mencari solusi permasalahan tersebut. Bagaimana dengan seorang pekerja? Seorang pekerja biasanya hanya berteori secukupnya, menerapkannya dilapangan dan terbiasa dengan permasalahan sebenarnya. Seorang pekerja kenyang dengan masalah dan kenyang juga dengan jawaban penyelesaiannya. Oke abaikan ini, hanya sekedar intermezzo.

Apa yang menarik di debat capres 2014 semalam?

Saya gak terlalu serius menonton debat capres semalam, tapi ada beberapa hal yang membuat saya sedikit mengambil waktu untuk memperhatikan. Dari kubu Prabowo-Hatta saya melihat banyak jawaban yang menyimpang dari apa yang ditanyakan. Mulai dari hubungan kesejahteraan pejabat yang kurang dengan masalah HAM, berkali kali menggunakan kata kebocoran sampai dengan jawaban Hatta yg tentang hukum yg sepertinya hampir membuat gol bunuh diri dikaitkan dengan kasus anaknya. Dari kubu Jokowi РJk sendiri memang lebih terstruktur jawabannya tapi sedikit menggampangkan persoalan. Saya maklum beginilah ciri khas seorang eksekutor, susah untuk diajak berbicara panjang lebar, lebih suka langsung menghadapi persoalan di lapangan. 

Apa Yang Harus Dilakukan Saat Debat Capres 2014 berikutnya

Berkaca dari Pilkada 2012 seharusnya masing masing pihak bisa memanfaatkan momen baik itu pertanyaan maupun sanggahan ataupun jawaban kubu lawan. Jangan menjawab bertele tele bahkan bias. Kita masih ingat betapa pintarnya ahok ketika debat pilgub dki jakarta, sampai sampai calon wagub kubu lawannya terpancing dan melontarkan kata kata yang dianggap bersifat sara. Kita sama sama tau akibatnya, kubu lawan mendapat respon negatip dari sebagian masyarakat. Sebenarnya debat kemaren kubu prabowo mempunyai kesempatan untuk membuat gol ke gawang kubu sebelah, tapi sayang momen tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik. Pertanyaan JK tentang penyelesaian kasus HAM di tahun 1998 yang melibatkan prabowo harusnya bisa dimanfaatkan prabowo untuk “membersihkan” dirinya. ¬†Sayangnya kesempatan itu dilepaskan.

Jadi kedua kubu untuk debat berikutnya semoga bisa mengambil momen momen untuk mencetak gol. Menyerang tidak selalu dengan cara yang kasar, bisa juga menggunakan cara yang halus dan elegan. Ingat debat capres akan dapat mengambil simpati masyarakat apabila pintar memanfaatkannya dan akan menyebabkan antipati masyarakat jika gagal dalam memanfaatkannya.

Note: tulisan ini adalah opini pribadi dan ditulis dalam kondisi kelaparan




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *