BPJS Kesehatan Sebagai Ujung Tombak Jaminan Kesehatan Nasional

bpjs-kesehatan

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan merupakan ujung tombak Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yaitu program pemerintah di bidang kesehatan. Program ini adalah pengganti dari Jamkesmas, Askes dan Jamsostek. Menjadikan banyak layanan dan mengerucutkannya pada satu program adalah hal yang menurut saya sangat bagus. Menyederhanakan birokrasi, menjadikannya transparan dan tentunya akan mengurangi kebocoran.

Saya sendiri adalah pengguna BPJS mandiri yang sudah pernah merasakan keuntungan langsung. Saya pernah melakukan operasi gangguan pada tulang kaki, saat itu saya diharuskan operasi. Untungnya saya adalah peserta BPJS mandiri yang akhirnya saya melaksanakan operasi yang ditanggung sepenuhnya oleh BPJS. Bila dibandingkan dengan iuran yang saya bayar setiap bulan, biaya operasi tersebut bisa ribuan kali lipat. Bayangkan bila saya harus membayar sendiri, tentu saya pusing 7 pangkat 7 keliling.

Suatu hari saya dimintai tolong seorang kawan untuk membantu dia mengerjakan urusan sistem informasi. sembari mengerjakan ternyata kawan adalah salah satu faskes pertama layanan BPJS. Mulai dari obrolan ringan suka duka menjadi faskes pertama sampai dengan rumor-rumor yang bertebaran soal kebijakan dan aturan. Jujur awalnya saya tidak tertarik dengan apa yang menjadi bahan obrolan kami sampai pada suatu hari ketika saya di ajak beliau bertugas. Ternyata banyak hal yang menarik yang saya dapatkan di lapangan. Saya sampaikan kepada beliau bahwa saya tertarik untuk melihat pelayanan BPJS dan meminta ijin untuk melakukan pengamatan sembari mengerjakan urusan yang lain dan beliau menyetujuinya. Saya memulai dengan melihat dan mengamati mulai dari prosedur pendaftaran sampai dengan tanggapan langsung pasien. Dari pengamatan saya (walaupun subjektif) saya mendapatkan kelebihan maupun kekurangan.

Sisi positip BPJS hasil dari pengamatan saya secara  mulai dari sistem sampai dengan pasien adalah

  • secara sistem Pendaftaran sudah cukup baik, gampang, dan terintegrasi.
  • Rumah sakit rujukan juga sudah banyak sehingga pasien yang dirujuk bisa memilih kemana mereka mau dirujuk, Menurut saya ini sangat baik karena berpengaruh dengan sisi psikologis pasien serta jarak tempuh rumah pasien ke rumah sakit.
  • Pelayanan permintaan dan pembuatan rujukan juga cukup sederhana dan gampang.
  • Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis ) yang di berikan BPJS sangat sangat baik karena membantu pasien penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup yang optimal. Prolanis sendiri menitikberatkan pada pasien penderita Diabetes tipe 2 dan hipertensi. Pokoknya saya kasih 2 jempol untuk Prolanis BPJS.
  • Program Rujuk balik BPJS sama seperti prolanis adalah program yang sangat-sangat bagus. Mulai dari kemudahan akses pelayanan kesehatan sampai dengan pemberian obat yang diperlukan secara gratis. Oh iyah sebagai pengetahuan PRB adalah pelayanan kepada pasien yang harus terapi obat dan kontrol rutin. PRB ini diberian pada penderita diabetes mellitus, hipertensi, jantung, asma, Penyakit paru, epilepsi, Skizorenia, stroke dan lupus.
  • BPJS tidak hanya memperhatikan dan memantau kesehatan peserta saja tapi sudah sampai kepada sosialisasi hidup sehat dan kesehatan lingkungan masyarakat.
  • Banyak masyarakat yang merasakan bahwa BPJS meringankan beban mereka ( termasuk saya juga yang pernah mengalami). Pujian dan ungkapan rasa senang dengan adanya BPJS saya dapatkan langsung dari pasien yang saya tanya.

Sedangkan kekurangan yang saya dapati dan saya kira harus menjadi perhatian dari pihak BPJS karena ini sangat berpengaruh kepada pelayanan dan kecepatan tindakan kepada pasien.

  • Saya sering mendapati program pendaftaran dan pelayanan (pcare) mengalami gangguan. Karena berhubungan dengan sistem online tentu gangguan ini bisa bermacam-macam mulai dari traffic padat, gangguan server, maintenance atau hal lain. Saya sendiri juga tidak tahu apa penyebab gangguannya kecuali ada gangguan yang diberitahukan terlebih dahulu seperti maintenance yang kadang memakan waktu sampai berjam-jam. Tentang maintenance sendiri saya sangat menyesalkan bahwa sekelas BPJS maintenance sering dilaksanakan pada saat jam operasional pelayanan. Terus terang ini sangat menggangu pelayanan karena tidak dapat mengakses pcare untuk pendaftaran pelayanan. Okelah pendaftaran bisa dilakukan secara manual, yang susah apabila harus membuatkan rujukan. Apakah maintenance tidak bisa dilakukan pada jam sepi pelayanan misal hari minggu yang notabene faskes pertama banyak yang tidak melayani?
  • Sistem Pembayaran yang belum maksimal. Sistem pembayaran telah dirubah yang dahulunya menbayar per-peserta menjadi pembayaran harus per Kartu Keluarga dengan 1 nomor virtual account milik kepala keluarga. Masalah yang sering terjadi adalah gagal bayar karena sistem. Hal ini tentu sangat menggangu terutama pasien yang akan berobat karena kartunya dianggap belum membayar. Keadaan diperparah lagi apabila tidak ketahuan maka di bulan berikutnya pasien akan mandapatkan denda pelayanan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

keterlambatan-sosialisasi-iuran-satu-keluarga

 

Contoh gagal Bayar Karena Sistem

Ambil contoh satu keluarga dengan 4 anggota keluarga yaitu ayah, ibu dan 2 anak menjadi peserta bpjs mandiri kelas 1 dengan iuran 80.000 rupiah per anggota keluarga. Pembayaran dilakukan 1 kali dengan jumlah nominal adalah iuran sesuai kelas x 4 artinya keluarga tersebut harus membayar 80.000×4 = 320.000 rupiah. Yang terjadi adalah ketika pembayaran dilakukan sebesar 320.000 rupiah yang terlunasi hanya 1 peserta dan 3 sisanya dianggap masih menunggak. Lucunya peserta yang terlunasi ternyata mempunyai saldo simpanan senilai 3 x 80.000 = 240.000 rupiah.

Sebenarnya BPJS sudah memberikan fasilitas kepada peserta untuk mengetahui apakah pembayaran sudah sesuai atau belum secara online bahkan dari smartphone. Fasilitas BPJS Cheking ini harus disosialisasikan sehingga peserta  tidak lagi mengalami kesulitan apabila hendak berobat dikarenakan tagihan maupun untuk mengetahui apakah peserta masih memiliki tunggakan atau tidak.

p_20161110_123452

Daerah abu-abu antara Pasien -BPJS – Rumah Sakit

Contoh kasus

Pasien A adalah pemegang BPJS mandiri kelas 1. Ketika harus menjalani rawat inap ternyata ruangan kelas 1 di rumah sakit rujukan penuh. Pasien kemudian berinisiatip bahkan ditawarkan untuk naik kelas ke ruang vip. Setelah dilakukan tindakan, masalah muncul ketika harus pulang. Pasien harus membayar tagihan rumah sakit hampir keseluruhannya.

Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya informasi yang diterima pasien. Selama ini, bahkan saya beranggapan bahwa ketika naik kelas pasien hanya dibebankan atas selisih biaya kamar dan selisih biaya perawatan. Apesnya pihak rumah sakit terkadang juga tidak memberikan informasi yang jelas. Padahal bila naik kelas (kelas 1 ke VIP ) pasien akan dibebankan biaya keseluruhan karena vip tidak masuk ke dalam paket pembayaran BPJS. Menurut saya BPJS harus mulai berpikir bagaimana cara mensosialisasikan ini sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara pasien dan rumah sakit. Saya hanya takut apabila daerah abu2 ini dimanfaatkan oleh rumah sakit yang “nakal” dalam bahasa sehari2 seperti jebakan betmen. Peserta BPJS berhak tau apa yang seharusnya mereka tahu, dan pihak BPJS wajib memberikan informasi yang menjadi hak peserta. Kasus seperti ini saya rasa tidak sedikit, dan ini tentunya menjadi preseden buruk buat BPJS sendiri karena peserta akan merasa tertipu, akan merasa dipermainkan padahal memang aturannya sudah seperti itu.

Masih banyak hal yang harus menjadi perhatian pihak penyelenggara BPJS. Terlepas dari segala kekurangan selama pelayanan, BPJS sudah sangat amat membantu masyarakat. Namanya sistem memang harus selalu mengalami pembaharuan dan perbaikan. Kesalahan pada sistem seringkali ada tetapi kecepatan dalam perbaikan dan pembaharuan itu yang harus menjadi tujuan. Semoga ke depan BPJS sebagai ujung tombak JKN bisa lebih profesional dan bisa lebih berkembang dalam pelayannya sehingga masyarakat yang dulunya berpandangan bahwa BPJS menyusahkan, ruwet, ribet menjadi terbuka matanya bahwa BPJS adalah sistem yang simpel, sederhana dan banyak manfaatnya. Terimakasih atas usaha pemerintah menjamin kesehatan rakyatnya, terimakasih atas segala program yang membantu penderita penyakit kronis menjalani hidup lebih baik lagi.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *